Cerita Sex Pucuk Dicinta Ulam Tiba | Tempat Cerita Sex
Home » Kisah Bokep Ngentot » Cerita Sex Pucuk Dicinta Ulam Tiba

Cerita Sex Pucuk Dicinta Ulam Tiba

VIMAX Vimax

Cerita Dewasa 2017 Sange – Disini aku akan berbagi cerita yang mana saat aku masih kelas 1 SMA aku hidup bersama dengan ibu saja karena ayahku meninggal karena serangan jantung, dari 2 tahun ini sampai aku kelas 3 SMA ibuku tidak betah untuk menjanda pada akhirnya sekarang aku memiliki ayah walaupun tiri, dan tak disangka ayah tiriku juga mengalami kisah perceraian dengan istri lamannya dan di karunia 2 orang anak yang cewek semua.

Satu nya kuliah dan satuya masih sekolah, yang pertama namanya Olin dan kedua namanya diyah, kulihat bentuk tubuh olin memang ideal sedangkan diyah cenderung memiliki ukuran buah dada yang besar dan montok, jujur saja kalau di rumah aku ingin memiliki dia berdua tapi karena situasi dan kondisi belum kesampaian , dan pada suatu ketika saat bapak ibu dan adiknya sedang ada urusan bersama aku yang disuruh dirumah di suruh jaga sama olin , sehabis pulang sekolah karena kecapaian aku langsung pergi ke kamar dan bilang kepada olin “ nanti kalau cari aku aku di kamar ya mba”

Cerita Dewasa Pucuk Dicinta Ulam Tiba

cerita ngentot, cerita sange, cerita ngentot terbaru, cerita sex ngentot 2017, cerita ngentot terbaru 2017, cerita orang ngentot 2017, kumpulan cerita ngentot 2017, ngentot cerita 2017, cerita hot ngentot 2017, cerita nyata ngentot 2017, koleksi cerita ngentot 2017, cerita ngentot baru 2017, kumpulan cerita ngentot terbaru 2017

Cerita Ngentot Pucuk Dicinta Ulam Tiba

Tapi di dalam kamar aku tak tidur melainkan bermain computer sambil ngenet, karena permainan juga udah tamat dan masih suntuk aku mencoba untuk membuka situs situs bokep , dan gak lama kemudian saat sudah menyetel filmnya tiba tiba olin datang masuk ke kamarku “ eh aku pinjam buku kamu itu yang kemarin” aku memang segaja tidak untuk mematikan komputerku biarkan saja film itu menyala dan aku mengambilkan buku yang di minta olin “nih bukunya”

Olin rupanya menatap komputer terus saat aku mengambil buku tadi,

“Ssssttt lin kamu kok diam saja”

“ehh kamu nonton apa itu, tak bilangin ama bapak ibu nanti kalau sudah pulang mereka”

“ehhh kamu ngapain bilang, kamu juga melihat film itu kan??? Hayooo

“gini saja mending kita nonton bareng saja gimana , gak usah saling melaporkan, sambil merayu dia.

“iya benar nih kamu nanti gak bilang kan???

“iya deh percaya sama aku, kemudian dia aku ambilkan kursi untuk duduk disampingku.

Kulihat olin sangat antusias menatap filmnya, kalau aku tidak lagi menatap film melainkan menatap tubuh olin

“lin kamu sering juga ya nonton film bokep beginian??

“iya juga tuh di kamar juga aku punya beberapa koleksi”

“heessstt rupanya nakal juga nih cewek,”

“lha kalau ML juga udah pernah belum?? Tanyaku

“belum , tapi kalau melakukan sendiri sering”

cerita ngentot, cerita sange, cerita ngentot terbaru, cerita sex ngentot 2017, cerita ngentot terbaru 2017, cerita orang ngentot 2017, kumpulan cerita ngentot 2017, ngentot cerita 2017, cerita hot ngentot 2017, cerita nyata ngentot 2017, koleksi cerita ngentot 2017, cerita ngentot baru 2017, kumpulan cerita ngentot terbaru 2017

Cerita Mesum Pucuk Dicinta Ulam Tiba

Wah makin berani saja aku, yang ada dalam pikiranku sekarang cuma ML sama dia.
Bagaimana caranya si “Beni Junior” bisa puas, tidak peduli saudara tiri, yang penting nafsuku hilang.

Melihat dadanya yang naik-turun karena terangsang, aku jadi semakin terangsang, dan batang kemaluanku pun makin tambah tegang.

“Lin, kamu terangsang yach, ampe napsu gitu nontonnya,” tanyaku memancing.

“Iya nic, bentar yach aku ke kamar mandi dulu,” katanya.

“Eh.. ngapain ke kamar mandi, nih liat!” kataku menunjuk ke arah celanaku.

“Kasihanilah si kecil,” kataku.

“Pikiran kamu jangan yang tidak-tidak dech,” katanya sambil meninggalkan kamarku.

“Tenang aja, rumah kan lagi sepi, aku tutup mulut dech,” kataku memancing.

Dan ternyata tidak ia gubris, bahkan terus berjalan ke kamar mandi sambil tangan kanannya meremas-remas buah dadanya dan tangan kirinya menggosok-gosok kemaluannya, dan hal inilah yang membuatku tidak menyerah. Kukejar terus dia, dan sesaat sebelum masuk kamar mandi, kutarik tangannya, kupegang kepalanya lalu kemudian langsung kucium bibirnya. Sesaat ia menolak tapi kemudian ia pasrah, bahkan menikmati setiap permainan lidahku.

“Kau akan aku berikan pengalaman yang paling memuaskan,” kataku, kemudian kembali melanjutkan menciumnya. Tangannya membuka baju sekolah yang masih kami kenakan dan juga ia membuka BH-nya dan meletakkan tanganku di atas dadanya, kekenyalan dadanya sangat berbeda dengan gadis lain yang pernah kusentuh. Perlahan ia membuka roknya, celanaku dan celana dalamnya. “Kita ke dalam kamar yuk!” ajaknya setelah kami berdua sama-sama bugil, “Terserah kaulah,” kataku,

“Yang penting kau akan kupuaskan.” Tak kusangka ia berani menarik kontolku sambil berciuman, dan perlahan-lahan kami berjalan menuju kamarnya.

“kamu tiduran dech, kita pake ’69′ mau tidak?” katanya sambil mendorongku ke kasurnya. Ia mulai menindihku, didekatkan memeknya ke mukaku sementara kontolku diemutnya, aku mulai mencium-cium memeknya yang sudah basah itu, dan aroma kewanitaannya membuatku semakin bersemangat untuk langsung memainkan klitorisnya.

Tak lama setelah kumasukkan lidahku, kutemukan klitorisnya lalu aku menghisap, menjilat dan kadang kumainkan dengan lidahku, sementara tanganku bermain di dadanya. Tak lama kemudian ia melepaskan emutannya.

“Jangan hentikan Ach.. percepat Ben, aku mau keluar nich! ach.. ach.. aachh… aku ke.. luar,” katanya berbarengan dengan menyemprotnya cairan kental dari memeknya. Dan kemudian dia lemas dan tiduran di sebelahku.

“Lin, sekali lagi yah, aku belum keluar nich,” pintaku.

“Bentar dulu yach, aku lagi capek nich,” jelasnya.

Aku tidak peduli kata-katanya, kemudian aku mulai mendekati memeknya.

“Lin, aku masukkin sekarang yach,” kataku sambil memasukkan kontolku perlahan-lahan.

Kelihatannya Olin sedang tidak sadarkan diri, dia hanya terpejam coba untuk beristirahat. Memek Olin masih sempit sekali, kontolku dibuat cuma diam mematung di pintunya. Perlahan kubuka dengan tangan dan terus kucoba untuk memasukkannya, dan akhirnya berhasil kontolku masuk setengahnya, kira-kira 7 cm.

“Jangan.. entar aku hamil!” katanya tanpa berontak.

“Kamu udah mens belom?” tanyaku.

“Udah, baru kemaren, emang kenapa?” katanya.

Sambil aku masukkan kontolku yang setengah, aku jawab pertanyaannya,

“Kalau gitu kamu kagak bakal hamil.”

“Ach.. ach.. ahh..! sakit, a.. ach.. ahh, pelan-pelan, aa.. aach.. aachh..!” katanya berteriak nikmat.

“Tenang aja cuma sebentar kok, Lin mending doggy style dech!” kataku tanpa melepaskan kontol dan berusaha memutar tubuhnya.

Ia menuruti kata-kataku, lalu mulai kukeluar-masukkan kontolku dalam memeknya dan kurasa ia pun mulai terangsang kembali, karena sekarang ia merespon gerakan keluar-masukku dengan menaik-turunkan pinggulnya.

“Ach.. a.. aa ach..” teriaknya.

“Sakit lagi.. a.. aa.. ach..”

“Tahan aja, cuma sebentar kok,” kataku sambil terus bergoyang dan meremas-remas buah dadanya.

“ ach pengen.. ach.. a.. keluar lagi..” katanya.

“Tunggu sebentar yach, aku juga pengen nich,” balasku.

“Cepetan, enggak tahan nich,” katanya semakin menegang.

“A.. ach.. aachh..! yach kan keluar.”

“Aku juga Say..” kataku semakin kencang menggenjot dan akhirnya setidaknya enam tembakan spermaku di dalam memeknya.

Kucabut kontolku dan aku melihat seprei, apakah ada darahnya atau tidak? tapi tenyata tidak.

“Lin kamu enggak perawan yach,” tanyaku.

“Iya Ben, dulu waktu lagi masturbasi nyodoknya kedaleman jadinya pecah dech,” jelasnya.

“ingat loh, jangan bilang siapa-siapa, ini rahasia kita aja.”

”Oh tenang aja aku bisa dipercaya kok, asal lain kali kamu mau lagi.”

Cerita Dewasa Pucuk Dicinta Ulam Tiba

“Siapa sih yang bisa nolak,” katanya mesra.

Setelah saat itu setidaknya seminggu sekali aku selalu melakukan ML dengan Olin, terkadang aku yang memang sedang ingin atau terkadang juga Olin yang sering ketagihan, yang asyik sampai saat ini kami selalu bermain di rumah tanpa ada seorang pun yang tahu, kadang tengah malam aku ke kamar Olin atau sebaliknya, kadang juga saat siang pulang sekolah kalau tidak ada orang di rumah.

Kali ini kelihatannya Olin lagi ingin, sejak di sekolah ia terus menggodaku, bahkan ia sempat membisikkan kemauannya untuk ML siang ini di rumah, tapi malangnya siang ini ayah dan ibu sedang ada di rumah sehingga kami tak jadi melakukan ini.

Aku menjanjikan nanti malam akan main ke kamarnya, dan ia mengiyakan saja, katanya asal bisa ML denganku hari ini ia menurut saja kemauanku.

Ternyata sampai malan ayahku belum tidur juga, kelihatannya sedang asyik menonton pertandingan bola di TV, dan aku pun tidur-tiduran sambil menunggu ayahku tertidur, tapi malang malah aku yang tertidur duluan.

Dalam mimpiku, aku sedang dikelitiki sesuatu dan berusaha aku tahan, tapi kemudian sesuatu menindihku hingga aku sesak napas dan kemudian terbangun.

“Olin! apa Ayah sudah tidur?” tanyaku melihat ternyata Olin yang menindihiku dengan keadaan telanjang.

“kamu mulai nakal , dari tadi aku tunggu kamu, kamu tidak datang-datang juga. kamu tau, sekarang sudah jam dua, dan ayah telah tidur sejak jam satu tadi,” katanya mesra sambil memegang kontolku karena ternyata celana pendekku dan CD-ku telah dibukanya.

“Yang nakal tuh kamu, Bukannya permisi atau bangunin aku kek,” kataku.

“kamu tidak sadar yach, kamu kan udah bangun, tuh liat udah siap kok,” katanya sambil memperlihatkan kontolku.

“Aku emut yach.”

Emutanya kali ini terasa berbeda, terasa begitu menghisap dan kelaparan.

“Lin jangan cepet-cepet dong, kasian dong!”

“Aku udah kepengen berat!” katanya lagi.

“Mending seperti biasa, kita pake posisi ’69′ dan kita sama-sama enak,” kataku sembil berputar tanpa melepaskan emutannya kemudian sambil terus diemut.

Aku mulai menjilat-jilat memeknya yang telah basah sambil tanganku memencet-mencet payudaranya yang semakin keras, terus kuhisap memeknya dan mulai kumasukkan lidahku untuk mencari-cari klitorisnya.

“Aach.. achh..” desahnya ketika kutemukan klitorisnya.

“kamu pinter banget nemuin itilku, a.. achh.. ahh..”

“kamu juga makin pinter ngulum si kecil,” kataku lagi.

“kali ini kita tidak usah banyak-banyak yach, aa.. achh..” katanya sambil mendesah.

“Cukup sekali aja nembaknya, taapi.. sa.. ma.. ss.. sa.. ma.. maa ac.. ach..” katanya sambil menikmati jilatanku.

“Tapi aku.. ma.. u.. keluar nich! Ach.. a.. aahh..” katanya sambil menegang kemudian mengeluarkan cairan dari memeknya.

“Kayaknya kamu harus dua kali dech!” kataku sambil merubah posisi.

“Ya udah dech, tapi sekarang kamu masukin yach,” katanya lagi.

“Bersiaplah akan aku masukkan ini sekarang,” kataku sambil mengarahkan kontolku ke memeknya.

“Siap-siap yach!”

“Ayo dech,” katanya.

“Ach.. a.. ahh..” desahnya ketika kumasukkan kontolku.

“Pelan-pelan dong!”

“Inikan udah pelan Lin,” kataku sambil mulai bergoyang.

“Lin, kamu udah terangsang lagi belon?” tanyaku.

“Bentar lagi,” katanya mulai menggoyangkan pantatnya untuk mengimbangiku, dan kemudian dia menarik kepalaku dan memitaku untuk sambil menciumnya.

“Sambil bercumbu dong!”

Tanpa disuruh dua kali aku langsung mncumbunya, dan aku betul-betul menikmati permainan lidahnya yang semakin mahir.

“Lin kamu udah punya pacar belom?” tanyaku.”Aku udah tapi baru abis putus,” katanya sambil mendesah.

“pacar aku itu enggak tau loh soal benginian, cuma kamu loh yang beginian sama aku.”

“Ach yang bener?” tanyaku lagi sambil mempercepat goyangan.

“Ach.. be.. ner.. kok , a.. aa.. ach.. achh,” katanya terputus-putus.

“Tahan aja, atau kamu mau udahan?” kataku menggoda.

“Jangan udahan dong, aku baru kamu bikin terangsang lagi, kan kagak enak kalau udahan, achh.. aa.. ahh.. aku percepat yach,” katanya.

Kemudian mempercepat gerakan pinggulnya.

“Kamu udah ngerti gimana enaknya, bentar lagi kayaknya aku bakal keluar dech,” kataku menyadari bahwa sepermaku sudah mengumpul di ujung.

“Achh.. ach.. bentar lagi nih.”

“Tahan!” katanya sambil mengeluarkan kontolku dari memeknya dan kemudian menggulumnya sambil tanganya mamainkan klitorisnya.

“Aku juga Ben, bantu aku cari klitorisku dong!” katanya menarik tanganku ke memeknya.

Sambil kontolku terus dihisapnya kumainkan klitorisnya dengan tanganku dan..

“Achh.. a.. achh.. achh.. ahh..” desahku sambil menembakkan spermaku dalam mulutnya.

“Aku juga.” katanya sambil menjepit tanganku dalam memeknya.

“Ach.. ah.. aa.. ach..” desahnya.

“Aku tidur di sini yach, nanti bangunin aku jam lima sebelum ayah bagun,” katanya sambil menutup mata dan kemudian tertidur, di sampingku. Tepat jam lima pagi aku bangun dan membangunkanya, kemudian ia bergegas ke kamar madi dan mempersiapkan diri untuk sekolah, begitu juga dengan aku.

Yang aneh siang ini tidak seperti biasanya Olin tidak pulang bersamaku karena ia ada les privat, sedangkan di rumah cuma ada Mbak Diyah, dan anehnya siang-siang begini Mbak Diyah di rumah memakai kaos ketat dan rok mini seperti sedang menunggu sesuatu.

“Siang! baru pulang? Olin mana?” tanyanya.

“Olin lagi les, katanya bakal pulang sore,” kataku, “Loh Mbak sendiri kapan pulang? katanya dari Solo yach?”

“Aku pulang tadi malem jam tigaan,” katanya.

“tadi malam kamu teriak sendirian di kamar ada apa?”

Wah gawat sepertinya Mbak Diyah dengar desahannya Olin tadi malam.

“Ach tidak kok, cuma ngigo,” kataku sambil berlalu ke kamar.

“Temenin Mbak nonton VCD dong, Mbak males nich nonton sendirian,” katanya dari kamarnya.

“Bentar!” kataku sambil berjalan menuju kamarnya, “Ada film apa Mbak?” tanyaku sesampai di kamarnya.

“Liat aja, nanti juga tau,” katanya lagi.

“Mbak lagi nungguin seseorang yach?” tanyaku.

“Mbak, lagi nungguin kamu kok,” katanya datar, “Tuh liat filmnya udah mulai.”

“Loh inikan..?” kataku melihat film BF yang diputarnya dan tanpa meneruskan kata-kataku karena melihat ia mendekatiku. Kemudian ia mulai mencium bibirku.

“Mbak tau kok yang semalam,” katanya, “Kamu mau enggak ngelayanin aku, aku lebih pengalaman dech dari Olin.”

Wah pucuk di cinta ulam tiba, yang satu pergi datang yang lain.

“Mbak, aku kan adik yang berbakti, masak nolak sich,” godaku sambil tangan kananku mulai masuk ke dalam rok mininya menggosok-gosok memeknya, sedangkan tangan kiriku masuk ke kausnya dan memencet-mencet payudaranya yang super besar.

“Kamu pinter dech, tapi sayang kamu nakal, pinter cari kesempatan,” katanya menghentikan ciumannya dan melepaskan tanganku dari dada dan memeknya.

“Mbak mau ngapain, kan lagi asyik?” tanyaku.”Kamu kagak sabaran yach, Mbak buka baju dulu terus kau juga, biar asikkan?” katanya sambil membuka bajunya.

Aku juga tak mau ketinggalan, aku mulai membuka bajuku sampai pada akhirnya kami berdua telanjang bulat.

“Tubuh Mbak bagus banget,” kataku memperhatikan tubuhnya dari atas sampai ujung kaki, benar-benar tidak ada cacat, putih mulus dan sekal.

Ia langsung mencumbuku dan tangan kanannya memegang kontolku, dan mengarahkan ke memeknya sambil berdiri.

“Aku udah enggak tahan Ben,” katanya.

Kuhalangi kontolku dengan tangan kananku lalu kumainkan memeknya dengan tangan kiriku.

“Nanti dulu ach, beginikan lebih asik.”

“Ach.. kamu nakal Ben! pantes si Olin mau,” katanya mesra.

“Mbak..! lagi dimana kalian?” terdengar suara Olin memanggil dari luar.

“Hari ini guru lesnya tidak masuk jadi aku dipulangin, kalian lagi dimana sich?” tanyanya sekali lagi.

“Masuk aja Lin, kita lagi pesta nich,” kata Mbak Diyah.

“Mbak! Entar kalau Olin tau gimana?” tanyaku.

“Ben jangan panggil Mbak, panggil aja Diyah,” katanya dan ketika itu aku melihat Olin di pintu kamar sedang membuka baju.

“yahh, aku ikut yach!” pinta Olin sambil memainkan memeknya.

“Ben kamu kuat nggak?” tanya Diyah.

“Tenang aja aku kuat kok, lagian kasian tuch Olin udah terangsang,” kataku.

“Lin cepet sinih emut ‘Beni Junior’,” ajakku.

Tanpa menolak Olin langsung datang mengemut kontolku.

“Mending kita tiduran, biar aku dapet memekmu,” kataku pada Diyah.

“Ayo dech!” katanya kemudian mengambil posisi.

Diyah meletakkan memeknya di atas kepalaku, dan kepalanya menghadap memek Olin yang sedang mengemut kontolku.

“Lin, aku maenin memekmu,” katanya.

Tanpa menunggu jawaban dari Olin ia langsung bermain di memeknya.Permainan ini berlangsung lama sampai akhirnya Diyah menegangkan pahanya, dan.. “Ach.. a.. aach.. aku keluar..” katanya sambil menyemprotkan cairan di memeknya.

“Sekarang ganti Olin yach,” kataku.

Kemudian aku bangun dan mengarahkan kontolku ke memeknya dan masuk perlahan-lahan.

“Ach.. aach..” desah Olin.

cerita ngentot, cerita sange, cerita ngentot terbaru, cerita sex ngentot 2017, cerita ngentot terbaru 2017, cerita orang ngentot 2017, kumpulan cerita ngentot 2017, ngentot cerita 2017, cerita hot ngentot 2017, cerita nyata ngentot 2017, koleksi cerita ngentot 2017, cerita ngentot baru 2017, kumpulan cerita ngentot terbaru 2017

Cerita Sex Pucuk Dicinta Ulam Tiba

“Kamu curang, Olin kamu masukin, kok aku tidak?” katanya.

“Abis kamu keluar duluan, tapi tenang aja, nanti abis Olin keluar kamu aku masukin, yang penting kamu merangsang dirimu sendiri,” kataku.

“Yang cepet dong goyangnya!” keluh Olin.

Kupercepat goyanganku, dan dia mengimbanginya juga.

“Kak, ach.. entar lagi gant.. a.. ach.. gantian yach, aku.. mau keluar ach.. aa.. a.. ach..!” desahnya, kemudian lemas dan tertidur tak berdaya.

“Ayo tunggu apa lagi!” kata Diyah sambil mengangkang mampersilakan kontolku untuk mencoblosnya.

“Aku udah terangsang lagi.”

Tanpa menunggu lama aku langsung mencoblosnya dan mencumbunya.

“Gimana enak kontolku ini?” tanyaku.

“Kontol kamu kepanjangan,” katanya, “tapi enak!”.

“Kayaknya kau nggak lama lagi dech,” kataku.

“Sama, aku juga enggak lama lagi,” katanya, “Kita keluarin sama-sama yach!” terangnya.

“Di luar apa di dalem?” tanyaku lagi.

“Ach.. a.. aach.. di.. dalem.. aja..” katanya tidak jelas karena sambil mendesah.

“Maksudku, ah.. ach.. di dalem aja.. aah.. ach.. bentar lagi..”

“Aku.. keluar.. ach.. achh.. ahh..” desahku sambil menembakkan spermaku.

“Ach.. aach.. aku.. ach.. juga..” katanya sambil menegang dan aku merasakan cairan membasahi kontolku dalam memeknya.

Akhirnya kami bertiga tertidur di lantai dan kami bangun pada saat bersamaan.
“aku mandi dulu yach, udah sore nich.”

“Aku juga ach,” kataku.

“, Lin, lain kali lagi yach,” pinta Diyah.

“Itu bisa diatur, asal lagi kosong kayak gini, ya nggak Ben!” kata Olin.

“Kapan aja kalian mau aku siap,” kataku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*