Layaknya Seperti Profesi Gigolo | Tempat Cerita Sex
Home » Kisah Kiriman Email » Layaknya Seperti Profesi Gigolo

Layaknya Seperti Profesi Gigolo

VIMAX Vimax

cerita mesum pemuas bu dosen, cerita sex terbaru gigolo, cerita ngentot memek bu dosen, cerita dewasa hot terbaru– Tanpa ada rencana atau keinginan seperti air mengalir saja kisah sexku yang aku alami bersama ibu dosen, sejak SMA banyak perempuan yang naksir pada diriku, entah katanya aku dibilang orangnya manis soalnya aku memiliki kulit yang sawo matang berbadan atletis tinggi 172 cm, tapi dalam kasus ini saat aqu menginjak ke jenjang perkulihan terjadilah hal yang baru aku alami yaitu bersetubuh dengan wanita.

Aku mengambil jurusan di perhotelan, orangtua menyarankanku untuk segera cepat lulus soalnya dari segi ekonomi orangtuaku biasa biasa saja, apalagi aku juga masih mempunyai adik yang mana juga ingin sekolah yang lebih tinggi lagi, tapi saran dari orangtuaku belum bisa aku penuhi karna ada salah satu mapel yang saat ini aku masih mengulang,

Cerita Sex Layaknya Seperti Profesi Gigolo

cerita sex terbaru, cerita mesum hot bu dosen, cerita ngentot memek bu dosen, cerita dewasa indonesia, cerita porn bu dosen , cerita seks sange bu dose, cerita mesum bergambar terbaru, cerita hot terlengkap, cerita dosen terbaru 2017, cerita dosen ngentot 2017, kumpulan cerita dosen ngentot 2017, cerita hot ngentot 2017, cerita nyata dosen ngentot 2017, koleksi cerita dosen ngentot 2017,

Cerita Sex Layaknya Seperti Profesi Gigolo

Waloupun sudah kuambil selama empat semester, tapi hasilnya belum lulus juga. Untuk mata kuliah yang lain aqu dapat menyelesaikannya, tapi untuk mata kuliah yang satu ini aqu benar-benar merasa kesulitan.

“Coba saja kamu konsultasi kepada dosen pembimbing akademis..,” kata temanku Rafi ketika kami berdua sedang duduk-duduk dalam kamar kost.

“Sudah, Di. Tapi beliau juga lepas tangan dgn masalahku ini. Kata beliau ini ditentukan oleh dirimu sendiri.” kataqu sambil menghisap rokok dalam-dalam.

“Benar juga apa yang dikatakan beliau, Mas, semua ditentukan dari dirimu sendiri.” sahut Rafi sambil termangu, tangannya sibuk memainkan korek api di depannya.

cerita sex terbaru, cerita mesum hot bu dosen, cerita ngentot memek bu dosen, cerita dewasa indonesia, cerita porn bu dosen , cerita seks sange bu dose, cerita mesum bergambar terbaru, cerita hot terlengkap, cerita dosen terbaru 2017, cerita dosen ngentot 2017, kumpulan cerita dosen ngentot 2017, cerita hot ngentot 2017, cerita nyata dosen ngentot 2017, koleksi cerita dosen ngentot 2017,

Cerita Mesum Layaknya Seperti Profesi Gigolo

Lama kami sibuk tenggelam dalam pikiran kami masing-masing, sampai akhirnya Rafi berkata,

“Gini saja, Mas, kamu langsung saja menghadap dosen mata kuliah itu, ceritakan kesulitanmu, mungkin beliau mau membantu.” kata Rafi.

Mendengar perkataan Rafi, seketika aqu langsung teringat dgn dosen mata kuliah yang menyebalkan itu. Namanya Ibu Ida, umurnya kira-kira 35 tahun. Orangnya lumayan cantik, juga seksi, tapi banyak temanku begitu juga aqu mengatakan Ibu Lidia adalah dosen killer, banyak temanku yang dibuat sebal olehnya. Maklum saja Ibu Lidia belum berkeluarga alias masih sendiri, perempuan yang masih sendiri mudah tersinggung dan sensitif.

“Waduh, Di, bagaimana bisa, dia dosen killer di kampus kita..,” kataqu bimbang.

“Iya sih, tapi walou bagaimanapun kamu harus berterus terang mengenai kesulitanmu, bicaralah baik-baik, masa beliau tidak mau membantu..,” kata Rafi memberi saran.

Aqu terdiam sejenak, berbagai pertimbangan muncul di kepalaqu. Dikejar-kejar waktu, pesan orang tua, dosen wanita yang killer.

Akhirnya aqu berkata,

cerita sex terbaru, cerita mesum hot bu dosen, cerita ngentot memek bu dosen, cerita dewasa indonesia, cerita porn bu dosen , cerita seks sange bu dose, cerita mesum bergambar terbaru, cerita hot terlengkap, cerita dosen terbaru 2017, cerita dosen ngentot 2017, kumpulan cerita dosen ngentot 2017, cerita hot ngentot 2017, cerita nyata dosen ngentot 2017, koleksi cerita dosen ngentot 2017,

Cerita Sex Layaknya Seperti Profesi Gigolo

“Baiklah Di, akan kucoba, besok aqu akan menghadap beliau di kampus.”

“Nah begitu dong, segala sesuatu harus dicoba dulu,” sahut Rafi sambil menepuk-nepuk pundakku.

Siang itu aqu sudah duduk di kantin kampus dgn segelas es teh di depanku dan sebatang rokok yang menyala di tanganku. Sebelum bertemu Ibu Lidia aqu sengaja bersantai dulu, karna bagaimanapun nanti aqu akan gugup menghadapinya, aqu akan menenangkan diri dulu beberapa saat. Tanpa aqu sadari, tiba-tiba Rafi sudah berdiri di belakangku sambil menepuk pundakku, sesaat aqu kaget dibuatnya.

“Ayo Mas, sekarang waktunya. Bu Lidia kulihat tadi sedang menuju ke rafigannya, mumpung sekarang tidak mengajar, temuilah beliau..!” bisik Rafi di telingaqu.

cerita sex terbaru, cerita mesum hot bu dosen, cerita ngentot memek bu dosen, cerita dewasa indonesia, cerita porn bu dosen , cerita seks sange bu dose, cerita mesum bergambar terbaru, cerita hot terlengkap, cerita dosen terbaru 2017, cerita dosen ngentot 2017, kumpulan cerita dosen ngentot 2017, cerita hot ngentot 2017, cerita nyata dosen ngentot 2017, koleksi cerita dosen ngentot 2017,

Cerita Dewasa Layaknya Seperti Profesi Gigolo

“Oke-oke..,” kataqu singkat sambil berdiri, menghabiskan sisa es teh terakhir, kubuang rokok yang tersisa sedikit, kuambil permen dalam saqu, kutarik dalam-dalam nafasku.

Aqu langsung melangkahkan kaki.

“Kalau begitu aqu duluan ya, Mas. Sampai ketemu di kost,” sahut Rafi sambil mIdanggalkanku.

Aqu hanya dapat melambaikan tangan saja, karna pikiranku masih berkecamuk bimbang, bagaimana aqu harus menghadapai Ibu Ida, dosen killer yang masih sendiri itu.

Perlahan aqu berjalan menyusupi lorong kampus, suasana sangat lengang saat itu, maklum hari Sabtu, banyak mahasiswa yang meliburkan diri, lagipula kalau saja aqu tidak mengalami masalah ini lebih baik aqu tidur-tiduran saja di kamar kost, ngobrol dgn teman. Hanya karna masalah ini aqu harus bersusah-susah menemui Bu Ida, untuk dapat membantuku dalam masalah ini.

Kulihat pintu di ujung lorong. Memang rafigan Bu Lidia terletak di pojok rafigan, sehingga tidak ada orang lewat simpang siur di depan rafigannya. Kelihatan sekali keadaan yang sepi.

Pikirku,

“Mungkin saja perempuan yang belum bersuami inginnya menyendiri saja.”

Perlahan-lahan kuketuk pintu, sesaat kemudian terdengar suara dari dalam,

“Masuk..!”

Aqu langsung masuk, kulihat Bu Lidia sedang duduk di belakang mejanya sambil membuka-buka map. Kutup pintu pelan-pelan. Kulihat Bu Lidia memandangku sambil tersenyum, sesaat aqu tidak menyangka beliau tersenyum ramah padaqu. Sedikit demi sedikit aqu mulai dapat merasa tenang, waloupun masih ada sedikit rasa gugup di hatiku.

“Silakan duduk, apa yang bisa Ibu bantu..?” Bu Lidia langsung mempersilakan aqu duduk, sesaat aqu terpesona oleh kecantikannya.

Bagaimana mungkin dosen yang begitu cantik dan anggun mendapat julukan dosen killer. Kutarik kursi pelan-pelan, kemudian aqu duduk.

“Oke, Dedi , ada apa ke sini, ada yang bisa Ibu bantu..?” sekali lagi Bu Lidia menanyakan hal itu kepadaqu dgn senyumnya yang masih mengembang.

Perlahan-lahan kuceritakan masalahku kepada Bu Ida, mulai dari keinginan orangtua yang ingin aqu agak cepat menyelesaikan studiku, sampai ke mata kuliah yang saat ini aqu belum dapat menyelesaikannya.

Kulihat Bu Lidia dgn tekun mendengarkan ceritaqu sambil sesekali tersenyum kepadaqu. Melihat keadaan yang demikian aqu bertambah semangat bercerita, sampai pada akhirnya dgn spontan aqu berkata,

“Apa saja akan kulaqukan Bu Ida, untuk dapat menyelesaikan mata kuliah ini. Mungkin suatu saat membantu Ibu membersihkan rumah, contohnya mencuci piring, mengepel, atau yah, katakanlah mencuci baju pun aqu akan melaqukannya demi agar mata kuliah ini dapat saya selesaikan. Saya mohon sekali, berikanlah keringanan nilai mata kuliah Ibu pada saya.”

Mendengar kejujuran dan perkataanku yang polos itu, kulihat Bu Lidia tertawa kecil sambil berdiri menghampiriku, tawa kecil yang kelihatan misterius, dimana aqu tidak dapat mengerti apa maksudnya.

“Apa saja Dedi ..?” kata Bu Lidia seakan menegaskan perkataanku tadi yang secara spontan keluar dari mulutku tadi dgn nada bertanya.

“Apa saja Bu..!” kutegaskan sekali lagi perkataanku dgn spontan.

Sesaat kemudian tanpa kusadari Bu Lidia sudah berdiri di belakangku, ketika itu aqu masih duduk di kursi sambil termenung. Sejenak Bu Lidia memegang pundakku sambil berbisik di telingaqu.

“Apa saja kan Dedi ..?”

Aqu mengangguk sambil menunduk, saat itu aqu belum menyadari apa yang akan terjadi. Tiba-tiba saja dari arah belakang, Bu Lidia sudah menghujani pipiku dgn ciuman-ciuman lembut, sebelum sempat aqu tersadar apa yang akan terjadi.

Bu Lidia tiba-tiba saja sudah duduk di pangkuanku, merangkul kepalaqu, kemudian melumatkan bibirnya ke bibirku. Saat itu aqu tidak tahu apa yang harus kulaqukan, seketika kedua tangan Bu Lidia memegang kedua tanganku, lalu meremas-remaskan ke toketnya yang sudah mulai mengencang.

Aqu tersadar, kulepaskan mulutku dari mulutnya.

“Bu, haruskah kita..”

Sebelum aqu menyelesaikan ucapanku, telunjuk Bu Lidia sudah menempel di bibirku, seakan menyuruhku untuk diam.

“Sudahlah Dedi , inilah yang Ibu inginkan..”

Setelah berkata begitu, kembali Bu Lidia melumat bibirku dgn lembut, sambil membimbing kedua tanganku untuk tetap meremas-remas toketnya yang montok karna sudah mengencang.

Akhirnya timbul hasrat kelelakianku yang normal, seakan terhipnotis oleh reaksi Bu Lidia yang menggairahkan dan ucapannya yang begitu pasrah, kami berdua tenggelam dalam hasrat seks yang sangat menggebu-gebu dan panas. Aqu membalas melumat bibirnya yang indah merekah sambil kedua tanganku terus meremas-remas kedua toketnya yang masih tertutup oleh baju itu tanpa harus dibimbing lagi.

Tangan Bu Lidia turun ke bawah perutku, kemudian mengusap-usap kemaluanku yang sudah mengencang hebat. Dilanjutkan kemudian satu-persatu kancing-kancing bajuku dibuka oleh Bu Ida, secara reflek pula aqu mulai membuka satu-persatu kancing baju Bu Lidia sambil terus bibirku melumat bibirnya.

Setelah dapat membuka bajunya, begitu pula dgn bajuku yang sudah terlepas, gairah kami semakin memuncak, kulihat kedua toket Bu Lidia yang memakai BH itu mengencang, toketnya menyembul indah di antara BH-nya.

Kuciumi kedua toket itu, kulumat belahannya, toket yang putih dan indah. Kudengar suara Bu Lidia yang mendesah-desah merasakan kIdakmatan yang kuberikan. Kedua tangan Bu Lidia mengelus-elus dadaqu yang bidang. Lama aqu menciumi dan melumat kedua toketnya dgn kedua tanganku yang sesekali meremas-remas dan mengusap-usap toket dan perutnya.

Akhirnya kuraba tali pengait BH di punggungnya, kulepaskan kancingnya, setelah lepas kubuang BH ke samping. Saat itu aqu benar-benar dapat melihat dgn utuh kedua toket yang mulus, putih dan mengencang hebat, menonjol serasi di dadanya.

Kulumat putingnya dgn mulutku sambil tanganku meremas-remas toketnya yang lain. Puting yang menonjol indah itu kukulum dgn penuh gairah, terdengar desahan nafas Bu Lidia yang semakin menggebu-gebu.

“Oh.., oh.., Dedi .. teruskan.., teruskan Dedi ..!” desah Bu Lidia dgn pasrah dan memelas.

Melihat kondisi seperti itu, kejantananku semakin memuncak. Dgn penuh gairah yang mengebu-gebu, kedua puting Bu Lidia kukulum bergantian sambil kedua tanganku mengusap-usap punggungnya, kedua puting yang menonjol tepat di wajahku. Toket yang mengencang keras.

Lama aqu melaqukannya, sampai akhirnya sambil berbisik Bu Lidia berkata,

“Angkat aqu ke atas meja Dedi .., ayo angkat aqu..!”

Spontan kubopong tubuh Bu Lidia ke arah meja, kududukkan, kemudian dgn reflek aqu menyingkirkan barang-barang di atas meja. Map, buku, pulpen, kertas-kertas, semua kujatuhkan ke lantai dgn cepat, untung lantainya memakai karpet, sehingga suara yang ditimbulkan tidak terlalu keras.

Masih dalam keadaan duduk di atas meja dan aqu berdiri di depannya, tangan Bu Lidia langsung meraba sabukku, membuka pengaitnya, kemudian membuka celanaqu dan menjatuhkannya ke bawah. Serta-merta aqu segera membuka celana dalamku, dan melemparkannya ke samping.
Kulihat Bu Lidia tersenyum dan berkata lirih,

“Oh.. Dedi .., betapa jantannya kamu.. kemaluanmu begitu panjang dan besar.. Oh.. Dedi , aqu sudah tak tahan lagi untuk merasakannya.”

Aqu tersenyum juga, kuperhatikan tubuh Bu Lidia yang setengah telanjang itu.

Kemudian sambil kurebahkan tubuhnya di atas meja dgn posisi aqu berdiri di antara kedua pahanya yang telentang dgn rok yang tersibak sehingga kelihatan pahanya yang putih mulus, kuciumi toketnya, kulumat putingnya dgn penuh gairah, sambil tanganku bergerilya di antara pahanya.

Aqu memang menginginkan pemanasan ini agak lama, kurasakan tubuh kami yang berkeringat karna gairah yang timbul di antara aqu dan Bu Lidia. Kutelusuri tubuh Bu Lidia yang setengah telanjang dan telentang itu mulai dari perut, kemudian kedua toketnya yang montok, lalu leher. Kudengar desahan-desahan dan rintihan-rintihan pasrah dari mulut Bu Lidia.

Sampai ketika Bu Lidia menyuruhku untuk membuka roknya, perlahan-lahan kubuka kancing pengait rok Bu Ida, kubuka restletingnya, kemudian kuturunkan roknya, lalu kujatuhkan ke bawah. Setelah itu kubuka dan kuturunkan juga celana dalamnya.

Seketika hasrat kelelakianku semakin menggebu-gebu demi melihat tubuh Bu Lidia yang sudah telanjang bulat, tubuh yang indah dan seksi, dgn gundukan daging di antara pahanya yang ditutupi oleh rambut yang begitu rimbun.

Terdengar Bu Lidia berkata pasrah,

“Ayolah Dedi .., apa yang kau tunggu..? Ibu sudah tak tahan lagi.”

Kurasakan tangan Bu Lidia menggenggam kemaluanku, menariknya untuk lebih mendekat di antara pahanya. Aqu mengikuti kemauan Bu Lidia yang sudah memuncak itu, perlahan tapi pasti kumasukkan kemaluanku yang sudah mengencang keras layaknya milik kuda perkasa itu ke dalam memek Bu Lidia.

Kurasakan milik Bu Lidia yang masih agak sempit. Akhirnya setelah sedikit bersusah payah, seluruh batang kemaluanku amblas ke dalam memek Bu Lidia.
Terdengar Bu Lidia merintih dan mendesah,

“Oh.., oh.., Dedi .. terus Dedi .. jangan lepaskan Dedi .. aqu mohon..!”

Tanpa pikir panjang lagi disertai hasratku yang sudah menggebu-gebu, kugerakkan kedua pantatku maju-mundur dgn posisi Bu Lidia yang telentang di atas meja dan aqu berdiri di antara kedua pahanya.

Mula-mula teratur, seirama dgn goyangan-goyangan pantat Bu Lidia. Sering kudengar rintihan-rintihan dan desahan Bu Lidia karna menahan kIdakmatan yang amat sangat. Begitu juga aqu, kuciumi dan kulumat kedua toket Bu Lidia dgn mulutku.

Kurasakan kedua tangan Bu Lidia meremas-remas rambutku sambil sesekali merintih,

“Oh.. Dedi .. oh.. Dedi .. jangan lepaskan Dedi , kumohon..!”

Mendengar rintihan Bu Ida, gairahku semakin memuncak, goyanganku bertambah ganas, kugerakkan kedua pantatku maju-mundur semakin cepat.
Terdengar lagi suara Bu Lidia merintih,

“Oh.. Dedi .. kamu memang perkasa.., kau memang jantan.. Dedi .. aqu mulai keluar.. oh..!”

“Ayolah Bu.., ayolah kita mencapai puncak bersama-sama, aqu juga sudah tak tahan lagi,” keluhku.

Setelah berkata begitu, kurasakan tubuhku dan tubuh Bu Lidia mengejang, www.tempatceritasex.com , seakan-akan terbang ke langit tujuh, kurasakan cairan kIdakmatan yang keluar dari kemaluanku, semakin kurapatkan kemaluanku ke memek Bu Lidia.

Terdengar keluhan dan rintihan panjang dari mulut Bu Ida, kurasakan juga dadaqu digigit oleh Bu Ida, seakan-akan nmenahan kIdakmatan yang amat sangat.

“Oh.. Dedi .. oh.. oh.. oh..”

Setelah kukeluarkan cairan dari kemaluanku ke dalam memek Bu Ida, kurasakan tubuhku yang sangat kelelahan, kutelungkupkan badanku di atas badan Bu Lidia dgn masih dalam keadan telanjang, agak lama aqu telungkup di atasnya.

Setelah kurasakan kelelahanku mulai berkurang, aqu langsung bangkit dan berkata,

“Bu, apakah yang sudah kita laqukan tadi..?”

Kembali Bu Lidia memotong pembicaraanku,

“Sudahlah Dedi , yang tadi itu biarlah terjadi karna kita sama-sama menginginkannya, sekarang pulanglah dan ini alamat Ibu, Ibu ingin cerita banyak kepadamu, kamu mau kan..?”

Setelah berkata begitu, Bu Lidia langsung menyodorkan kartu namanya kepadaqu. Kuterima kartu nama yang berisi alamat itu.

Sejenak kutermangu, kembali aqu dikagetkan oleh suara Bu Ida,

“Dedi , pulanglah, pakai kembali pakaianmu..!”

Tanpa basa-basi lagi, aqu langsung mengenakan pakaianku, kemudian membuka pintu dan keluar rafigan. Dgn gontai aqu berjalan keluar kampus sambil pikiranku berkecamuk dgn kejadian yang baru saja terjadi antara aqu dgn Bu Lidia.

Aqu telah bermain cinta dgn dosen killer itu. Bagaimana itu bisa terjadi, semua itu diluar kehendakku. Akhirnya walou bagaimanapun nanti malam aqu harus ke rumah Bu Lidia.

Kudapati rumah itu begitu kecil tapi asri dgn tanaman dan bunga di halaman depan yang tertata rapi, serasi sekali keadannya. Langsung kupencet bel di pintu, tidak lama kemudian Bu Lidia sendiri yang membukakan pintu, kulihat Bu Lidia tersenyum dan mempersilakan aqu masuk ke dalam.

Kuketahui ternyata Bu Lidia hidup sendirian di rumah ini. Setelah duduk, kemudian kami pun mengobrol. Setelah sekian lama mengobrol, akhirnya kuketahui bahwa Bu Lidia selama ini banyak dikecewakan oleh laki-laki yang dicintainya.

Semua laki-laki itu hanya menginginkan tubuhnya saja bukan cintanya. Setelah bosan, laki-laki itu mIdanggalkan Bu Lidia. Lalu dgn jujur pula dia memintaqu selama masih menyelesaikan studi, aqu dimintanya untuk menjadi teman sekaligus kekasihnya. Akhirnya aqu mulai menyadari bahwa posisiku tidak beda dgn gigolo.

Kudengar Bu Lidia berkata,

“Selama kamu masih belum wisuda, tetaplah menjadi teman dan kekasih Ibu. Apa pun permintaanmu kupenuhi, uang, nilai mata kuliahmu agar lulus, semua akan Ibu penuhi, mengerti kan Dedi ..?”

Selain melihat kesendirian Bu Lidia tanpa ada laki-laki yang dapat memuaskan hasratnya, aqu pun juga mempertimbangkan kelulusan nilai mata kuliahku. Akhirnya aqu pun bersedia menerima tawarannya.

Akhirnya malam itu juga aqu dan Bu Lidia kembali melaqukan apa yang kami laqukan siang tadi di rafigan Bu Ida, di kampus. Tetapi bedanya kali ini aqu tidak canggung lagi melayani Bu Lidia dalam bercinta. Kami bercinta dgn hebat malam itu, 3 kali semalam, kulihat senyum kepuasan di wajah Bu Lidia.

Walou bagaimanapun dan entah sampai kapan, aqu akan selalu melayani hasrat seksualnya yang berlebihan, karna memang ada jaminan mengenai kelulusan mata kuliahku yang tidak lulus-lulus itu dari dulu. selesai : cerita sex terbaru, cerita mesum hot bu dosen, cerita ngentot memek bu dosen, cerita dewasa indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*