Memuaskan Batang yang Hitam dan Besar | Tempat Cerita Sex
Home » Kisah Selingkuh » Memuaskan Batang yang Hitam dan Besar

Memuaskan Batang yang Hitam dan Besar

VIMAX Vimax

Cerita Sex Istri Berselingkuh dengan lelaki lain – Aku sudah memiliki suami yang di kata sabar pengertian namanya Faiz di bekerja di salah satu perusahaan di bidang baja, baru 1 tahun aku dan suamiku melangsungkna pernikahan belum ada tanda tanda masalah yang berarti, cukup tenang dan harmonis, sedangkan aku (Ema) bekarja di salah satu kota batik bagian keuangan.

Secara bentuk tubuh aku juga tak menarik perhatian dengan tinggi hanya 164 cm berat badan 45 kg, setalah selesai kuliah aku di persunting oleh suamiku umur antara kami berdua terpaut 3 tahun, untuk urusan body ya bisa di kata lumayan semok dengan ukuran BH 34 B, aku dan suamiku yang sama sama bekerja untuk waktu bertemu mungkin setelah pulang dari kantor atau sebelum berangkat kerja, kalau weekend biasanya kami habiskan untuk jalan jalan di mall atau menginap di sebuah villa.

Memuaskan Batang yang Hitam dan Besar

cetita dewawa selingkuhan, cerita selingkuh suami orang, cerita ML selingkuh, cerita selingkuh nyata, cerita istri selingkuh terbaru, cerita sex terpaksa selingkuh, cerita seks selingkuh suami istri, cerita mesum perselingkuhan istri, cerita perselingkuhan hubungan intim

Soal hubungan kami, terutama yang berkaitan dgn ‘malam-malam di ranjang’ juga tak ada masalah yang berarti. Memang tak tiap malam. Paling tak 2 kali sepekan, Faiz menunaikan tugasnya sebagai suami. Hanya saja, sebab suami aku itu sering pulang tengah malam, tentu saja dia tampak capek bila sudah berada di rumah. Bila sudah begitu, aku juga tak mau terlalu rewel. Juga soal ranjang itu.

Bila Faiz sudah berkata,

“Kita tidur ya,” maka aku pun menganggukkan kepala walau saat itu mata aku masih belum mengantuk.

Akibatnya, tergolek disamping tubuh suami–yang tak terlalu kekar itu-dgn mata yang masih nyalang itu, aku sering-entah mengapa-menghayal. Menghayalkan banyak hal.

Tentang jabatan di kantor, tentang anak, tentang hari esok & juga tentang ranjang.

Bila sudah sampai tentang ranjang itu, seringkali pula aku membayangkan aku bergumulan habis-habisan di tempat tidur. Kayak cerita Ani ato Indah di kantor, yang tiap pagi selalu punya cerita menarik tentang apa yang mereka perbuat dgn suami mereka pada malamnya.

Tapi sesungguhnya itu hanyalah khayalan menjelang tidur yang menurut aku wajar-wajar saja. & aku juga tak punya pikiran lebih dari itu. & mungkin pikiran kayak itu akan terus berjalan bila saja aku tak bertemu dgn Sidik. Pria itu sehari-hari bekerja sebagai polisi dgn pangkat Briptu. Usianya mungkin sudah 50 tahun. Gemuk, perut buncit & hitam.

cetita dewawa selingkuhan, cerita selingkuh suami orang, cerita ML selingkuh, cerita selingkuh nyata, cerita istri selingkuh terbaru, cerita sex terpaksa selingkuh, cerita seks selingkuh suami istri, cerita mesum perselingkuhan istri, cerita perselingkuhan hubungan intim

Begini ceritanya aku bertemu dgn pria itu. Suatu malam sepulang makan malam di salah satu resto favorit kami, entah mengapa, mobil yang disopiri suami aku menabrak sebuah sepeda motor. Untung tak terlalu parah betul. Pria yang membawa sepeda motor itu hanya mengalami lecet di siku tangannya. Namun, pria itu marah-marah.

“Anda tak lihat jalan ato bagaimana. Masak menabrak motor aku. Mana surat-surat mobil Anda? Aku ini polisi!” bentak pria berkulit hitam itu pada suami aku.

Mungkin sebab merasa bersalah ato takut dgn gertakan pria yang mengaku sebagai polisi itu, suami aku segera menyerahkan surat kendaraan & SIM-nya. Kemudian dicapai kesepakatan, suami aku akan memperbaiki semua kerusakan motor itu esok harinya. Sementara motor itu dititipkan pada sebuah bengkel. Pria itu sepertinya masih marah. Ketika Faiz menawari utk mengantar ke rumahnya, dia menolak.

“Tak usah. Aku pakai becak saja,” katanya.

Esoknya, Faiz sengaja pulang kerja cepat. Setelah menjemput aku di kantor, kami pun pergi ke rumah pria gemuk itu. Rumah pria yang kemudian kami ketahui bernama Sidik itu, berada pada sebuah gang kecil yang tak memungkinkan mobil Opel Blazer suami aku masuk. Terpaksalah kami berjalan & menitipkan mobil di pinggir jalan.

Rumah kontrakan Pak Sidik hanyalah rumah papan. Kecil. Di ruang tamu, kursinya sudah banyak terkelupas, sementara kertas & koran berserakan di lantai yang tak pakai karpet.

“Ya beginilah rumah aku. Aku sendiri tinggal di sini. Jadi, tak ada yang membersihkan,” kata Sidik yang hanya pakai singlet & kain sarung.

Setelah berbasa basi & minta maaf, Faiz mengatakan kalau sepedamotor Pak Sidik sudah diserahkan anak buahnya ke salah satu bengkel besar. & akan siap dalam dua ato tiga hari mendatang. Sepanjang Faiz bercerita, Pak Sidik tampak cuek saja. Dia menaikkan satu kaki ke atas kursi. Sesekali dia menyeruput secangkir kopi yang ada di atas meja.

“Oh begitu ya. Tak masalah,” katanya.

cetita dewawa selingkuhan, cerita selingkuh suami orang, cerita ML selingkuh, cerita selingkuh nyata, cerita istri selingkuh terbaru, cerita sex terpaksa selingkuh, cerita seks selingkuh suami istri, cerita mesum perselingkuhan istri, cerita perselingkuhan hubungan intim

Aku tahu, beberapa kali dia melirikkan matanya ke aku yang duduk di sebelah kiri. Tapi aku pura-pura tak tahu. Memandang Pak Sidik, aku bergidik juga. Badannya besar walau dia juga tak terlalu tinggi. Lengan tangannya tampak kokoh berisi. Sementara dadanya yang hitam membusung. Dari balik kaosnya yang sudah kusam itu tampak dadanya yang berbulu. Jari tangannya kayak besi yang bengkok-bengkok, kasar.

Sidik kemudian bercerita kalau dia sudah puluhan tahun bertugas & tiga tahun lagi akan pensiun. Sudah hampir tujuh tahun bercerai dgn istrinya. Dua orang anaknya sudah berumah tangga, sedangkan yang bungsu sekolah di Bandung. Dia tak bercerita mengapa pisah dgn istrinya.

Pertemuan kedua, di kantor polisi. Setelah beberapa hari sebelumnya aku habis ditodong saat berhenti di sebuah perempatan lampu merah, aku diminta datang ke kantor polisi. Aku kemudian diberi tahu anggota polisi kalau penodong aku itu sudah tertangkap, tetapi barang-barang berharga & HP aku sudah tak ada lagi. Sudah dijual si penodong.

Saat mau pulang, aku hampir bertabrakan dgn Pak Sidik di koridor kantor Polsek itu. Tiba-tiba saja ada orang di depan aku. Aku pun kaget & berusaha mengelak. Sebab buru-buru aku menginjak pinggiran jalan beton & terpeleset. Pria yang kemudian aku ketahui Pak Sidik itu segera menyambar lengan aku.

Akibatnya, tubuh aku yang hampir jatuh, menjadi terpuruk dalam pagutan Pak Sidik. Aku merasa berada dalam dekapan tubuh yang kuat & besar. Dada aku terasa lengket dgn dadanya. Sesaat aku merasakan getaran itu. Tapi tak lama.

“Makanya, jalannya itu hati-hati. Bisa-bisa jatuh masuk got itu,” katanya seraya melepaskan aku dari pelukannya. Aku hanya bisa tersenyum masam sambil bilang terimakasih.

Ketika Pak Sidik kemudian menawari minum di kantin, aku pun tak punya alasan utk menolaknya. Sambil minum dia banyak bercerita. Tentang motornya yang sudah baik, tentang istri yang minta cerai, tentang dirinya yang disebut orang-orang suka menanggu istri orang. Aku hanya diam mendengarkan ceritanya.

Mungkin sebab seringkali diam bila bertemu & dia pun makin punya keberanian, Pak Sidik itu kemudian malah sering datang ke rumah. Datang hanya utk bercerita. Ato menanyai soal rumah kami yang tak punya penjaga.

Ato tentang hal lain yang semua itu, aku rasakan, hanya sekesar utk bisa bertemu dgn berdekatan dgn aku. Tapi semua itu setahu suami aku lho. Bahkan, tak jarang pula Faiz terlibat permainan catur yang mengasyikkan dgn Pak Sidik bila dia datang pas ada Faiz di rumah.

Ketika suatu kali, suami aku ke Jakarta sebab ada urusan pekerjaan, Pak Sidik malah menawarkan diri utk menjaga rumah. Faiz, yang paling tak selama sepakan di Jakarta, tentu saja gembira dgn tawaran itu. & aku pun merasa tak punya alasan utk menolak.

Walau sedikit kasar, tapi Pak Sidik itu suka sekali bercerita & juga nanya-nanya. & sebab kemudian sudah menganggapnya sebagai keluarga sendiri, aku pun tak pula sungkan utk berceritanya dengannya.

Apalagi, keluarga aku tak ada yang berada di Solo. Sekali waktu, aku keceplosan. Aku ceritakan soal desakan ibu mertua agar aku segera punya anak. & ini mendapat perhatian besar Pak Sidik. Dia antusias sekali. Matanya tampak berkilau.

“Oh ya. Ah, kalau yang itu mungkin aku bisa bantu,” katanya.

Dia makin mendekat.

“Bagaimana caranya?” tanya aku bingung.

“Mudah-mudahan aku bisa bantu. Datanglah ke rumah. Aku beri obat & sedikit diurut,” kata Pak Sidik pula.

Dgn pikiran lurus, setelah sebelumnya aku memberitahu Faiz, aku pun pergi ke rumah Pak Sidik. Sore hari aku datang. Saat aku datang, dia juga masih pakai kain sarung & singlet. Aku lihat matanya berkilat.

Pak Sidik kemudian mengatakan bahwa pengobatan yang didapatkannya melalui kakeknya, dilakukan dgn pemijatan di bagian perut. Paling tak tujuh kali pemijatan, katanya. Setelah itu baru diberi obat. Aku hanya diam.

“Sekarang saja kita mulai pengobatannya,” ujarnya seraya membawa aku masuk kamarnya. Kamarnya kecil & pengap. Jendela kecil di samping ranjang tak terbuka.

Sementara ranjang kayu hanya beralaskan kasur yang sudah menipis.

Pak Sidik kemudian memberikan kain sarung. Dia menyuruh aku utk membuka kulot biru tua yang aku pakai. Risih juga membuka pakaian di depan pria tua itu.

“Gantilah,” katanya ketika melihat aku masih bengong.

Inilah pertama kali aku ganti pakaian di dekat pria yang bukan suami aku. Di atas ranjang kayu itu aku disuruh berbaring.

“Maaf ya,” katanya ketika tangannya mulai menekan perut aku.

Terasa sekali jari-jari tangan yang kasar & keras itu di perut aku. Dia menyibak bagian bawah baju. Jari tangannya menari-nari di seputar perut aku. Sesekali jari tangannya menyentuh pinggir lipatan paha aku. Aku melihat gerakannya dgn nafas tertahan. Aku berasa bersalah dgn Faiz.

“Ini dilepas saja,” katanya sambil menarik CD aku. Uupsss! Aku kaget.

“Ya, mengganggu kalau tak dilepas,” katanya pula.

Tanpa menunggu persetujuan aku, Par Sidik menggeser bagian atasnya. Aku merasakan bulu-bulu vagina aku tersentuh tangannya. CD aku pun merosot. Walau ingin menolak, tapi suara aku tak keluar. Tangan aku pun terasa berat utk menahan tangannya.

Tanpa bicara, Pak Sidik kembali melanjutkan pijatannya. Jari tangan yang kasar kembali bergerilya di bagian perut. Kedua paha aku yang masih rapat dipisahkannya. Tangannya kemudian memijati pinggiran daerah sensitif aku.

Tangan itu bolak balik di sana. Sesekali tangan kasar itu menyentuh daerah klitoris aku. Aku rasa ada getaran yang menghentak-hentak. Dari mulut aku yang tertutup, terdengar hembusan nafas yang berat, Pak Sidik makin bersemangat.

“Ada yang tak beres di bagian peranakan kamu,” katanya.

Satu tangannya berada di perut, sementara yang lainnya mengusap gundukan yang ditumbuhi sedikit bulu. Tangannya berputar-putar di selangkang aku itu. Aku merasakan ada kenikmatan di sana. Aku merasakan bibir vagina aku pun sudah basah. Kepala aku miring ke kiri & ke kanan menahan gejolak yang tak tertahankan.

Tangan kanan Pak Sidik makin berani. Jari-jari mulai memasuki pinggir liang vagina aku. Dia mengocok-ngocok. Kaki aku menerjang menahan gairah yang melanda. Tangan aku yang mencoba menahan tangannya malah dibawanya utk meremas toket aku. Walau tak membuka BH, namun remasan tangannya mampu membuat panyudara aku mengeras.

Uh, aku tak tahu kalau kain sarung yang aku pakai sudah merosot hingga ujung kaki. CD juga sudah tanggal. Yang aku tahu hanyalah lidah Pak Sidik sudah menjilati selangkang aku yang sudah membanjir. Terdengar suara kecipak becek yang diselingi nafas memburu Pak Sidik.

Ini permainan yang baru yang pertama kali aku rasaran. Faiz, suami aku, bahkan tak pernah menyentuh daerah pribadiku dgn mulutnya. Tapi, jilatan Pak Sidik benar-benar membuat dada aku turun naik. Kaki aku yang menerjang kemudian digumulnya dgn kuat, lalu dibawanya ke atas. Sementara kepalanya masih terbenam di selangkangan aku.

Benar-benar sensasi yang sangat mengasyikan. & aku pun tak sadar kalau kemudian, tubuh aku mengeras, mengejang, lalu ada yang panas mengalir di vagina aku. Aduh, aku orgasme! Tubuh aku melemas, tulang-tulang ini terasa terlepas.

Aku lihat Pak Sidik menjilati rembesan yang mengalir dari memek. Lalu ditelannya. Bibirnya belepotan air kenikmatan itu. Singletnya pun basah oleh keringat. Aku memejamkan mata, sambil meredakan nafas. Sungguh, permainan yang belum pernah aku alami. Pak Sidik naik ke atas ranjang.

“Kita lanjutkan,” katanya.

Aku disuruhnya telungkup. Tangannya kembali merabai punggung aku. Mulai dari pundah. Lalu terus ke bagian pinggang. & ketika tangan itu berada di atas pantat aku, Pak Sidik mulai melenguh. Jari tangannya turun naik di antara anus & memek. Berjalan dgn lambat.

Ketika pas di lubang anus, jarinya berhenti dgn sedikit menekan. Wow, sangat mengasyikan. Tulang-tulang terasa mengejang. Terus terang, aku menikmatinya dgn mata terpejam.

Bila kemudian, terasa benda bulat hangat yang menusuk-nusuk di antara lipatan pantat, aku hanya bisa melenguh. Itu yang aku tunggu-tunggu. Aku rasakan benda itu sangat keras. Benar. Saat aku berbalik, aku lihat kont*l Pak Sidik itu. Besar & hitam. Tampak jelas urat-uratnya. Bulunya pun menghitam lebat.

Mulut aku sampai ternganga ketika ujung kont*l Pak Sidik mulai menyentuh bibir vagina aku. Perlahan ujungnya masuk. Terasa sempit di vagina aku. Pak Sidik pun menekan dgn perlahan. Dia mengoyangnya. Bibir vagina aku kayak ikut bergoyang keluar masuk mengikuti goyangan kont*l Pak Sidik.

Hampir sepuluh menit Pak Sidik asik dgn goyangannya. Aku pun meladeni dgn goyangan. Tubuh kami yang sudah sama-sama telanjang, basah dgn keringat. Kuat juga stamina Pak Sidik. Belum tampak tanda-tanda itunya akan ‘menembak’.

Padahal, aku sudah kembali merasakan ujung vagina aku memanas. Tubuh aku mengejang. Dgn sedikit sentakan, maka muncratlah. Berkali-kali. Orgasme yang kedua ini benar-benar terasa memabukkan. Liang vagina aku makin membanjir. Tubuh aku kehilangan tenaga. Aku terkapar.

Aku hanya bisa diam saja ketika Pak Sidik masih menggoyang. Beberapa saat kemudian, baru itu sampai pada puncaknya. Dia menghentak dgn kuat. Kakinya menegang. Dgn makin menekan, dia pun memuntahkan seluruh spermanya di dalam vagina aku.

Baca Juga :

Aku tak kuasa menolaknya. Tubuh besar hitam itu pun ambruk diatas tubuh aku. Luar biasa permainan polisi yang hampir pensiun itu. Apalagi dibandingkan dgn permainan Faiz.

Sejak saat itu, aku pun ketagihan dgn permainan Pak Sidik. Kami masih sering melakukannya. Kalau tak di rumahnya, kami juga nginap di Tawangmangu. Walau, kemudian Pak Sidik juga sering minta duit, aku tak merasa membeli kepuasan syahwat kepadanya.

Semua itu aku lakukan, tanpa setahu Faiz. & aku yakin Faiz juga tak tahu samasekali. Aku merasa berdosa padanya. Tapi, entah mengapa, aku juga butuh belaian keras Pak Sidik itu. Entah sampai kapan. cerita seks perselingkuhan istri

2 comments

  1. oh begitu
    trus ijin ninggalin jejak..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*